Stephen Hawking, Ilmuwan Atheis Tak Kuasa Menolak Sakaratul Maut

Stephen Hawking
Orang memandang Stephen Hawking sebagai ilmuwan paling istimewa di abad ini. Penggagas teori lubang hitam dan juga theory of everything ini sejak 50 tahun duduk di kursi roda bahkan harus bicara lewat alat khusus. Ada juga yang mengatakan dia telah mempopulerkan sains dengan pendekatan populer, penuh humor dan modern. Namun sekarang Ilmuwan dunia ini tidak bisa apa-apa lagi, ia telah meninggal dunia.

Hawking meninggal di rumahnya di Cambridge pada pagi hari tanggal 14 Maret 2018 (GMT), menurut seorang juru bicara keluarga. Keluarganya mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengungkapkan kesedihan mereka.

Keluarga Hawking tidak mengungkapkan penyebab kematiannya, mereka menyatakan bahwa dia "meninggal dengan damai". Namun dalam sebuah pernyataan yang dirilis hari Selasa (13/4), pihak keluarga mengumumkan bahwa Stephen Hawking meninggal dalam tidurnya.

Sebelumnya Hawking menderita penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), yakni gangguan degeneratif yang tidak dapat disembuhkan dan juga dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig. Penyakit itu membuatnya  hampir lumpuh total. Setelah operasi tenggorokan pada tahun 1985, dia bisa berkomunikasi melalui synthesizer suara elektronik.

Dia hidup dengan gangguan degeneratif selama lebih dari 50 tahun, suatu hal yang jarang terjadi. Hanya 5 persen pasien yang didiagnosis dengan ALS bertahan hidup selama 10 tahun atau lebih, demikian pernyataan Motor Neurone Disease Association.

Stephen Hawking adalah penerima 12 gelar kehormatan dan merupakan seorang ilmuwan yang sangat dihormati. Komentar dan tanggapannya tentang setiap penemuan besar di dunia fisika, astronomi dan kosmologi selalu ditunggu.

Hawking juga diangkat sebagai Lucasian Professor of Mathematics at Cambridge University, sebuah jabatan terhormat yang juga dipegang oleh Sir Isaac Newton lebih 300 tahun lalu.


Pernyataan Pribadi tentang Agama dan ateisme

Hawking menyatakan bahwa ia "tidak setaat orang-orang pada umumnya" dan ia percaya bahwa "alam semesta diatur oleh hukum ilmu pengetahuan". Hawking stated:

Ada perbedaan mendasar antara agama yang didasarkan pada perintah [dan] sains yang didasarkan pada pengamatan dan nalar. Sains akan menang karena selalu terbukti.

"Hukum-hukum [sains] ini bisa jadi ditetapkan oleh Tuhan, tetapi Tuhan tidak campur tangan untuk melanggarnya," kata Hawking. Dalam wawancara di The Guardian, Hawking memandang konsep surga sebagai mitos. Ia yakin bahwa "surga atau akhirat itu tidak ada" dan hal-hal seperti itu "hanyalah dongeng bagi orang-orang yang takut kegelapan". Pada tahun 2011, ketika menarasikan episode pertama seri televisi Curiosity di Discovery Channel, Hawking mengatakan:

Kita bebas percaya apapun, dan saya memandang bahwa penjelasan paling sederhananya adalah Tuhan itu tidak ada. Tidak ada sosok yang menciptakan alam semesta dan tidak ada pula yang menentukan nasib kita. Pandangan ini membuat saya sadar akan hal lain. Mungkin surga itu tidak ada. Demikian halnya dengan akhirat. Kita hanya hidup sekali untuk menikmati besarnya alam semesta ini. Saya sangat bersyukur atas nikmat tersebut.

Pada September 2014, ia hadir di Starmus Festival sebagai pembicara dan mengumumkan bahwa dirinya adalah seorang ateis. Dalam wawancara dengan El Mundo, ia berkomentar:

Sebelum kita paham ilmu pengetahuan, wajar saja kita percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta. Namun, sains kini memiliki penjelasan yang lebih meyakinkan. Ketika saya mengatakan 'kita akan mengetahui isi pikiran Tuhan', maksud saya adalah kita akan tahu semua hal yang diketahui Tuhan, itu pun seandainya ada Tuhan, dan memang tidak ada. Saya seorang ateis.


Kematian Yang tak dapat Dihindari

Stephen Hawking adalah salah satu contoh manusia yang sombong kepada sang Maha Pencipta yaitu Tuhan. Ia tidak percaya tuhan, namun hingga akhir hayatnya ia tidak kuasa apa-apa untuk menolak kehendakNya. Penderitaan selam 50 tahun duduk di kursi roda bahkan harus bicara lewat alat khusus adalah sebuah teguran dari tuhan, namun ia tidak merasakannya. Hanya hidayah yang bisa membuat orang percaya kepada tuhannya. Ini adalah sebuah pelajaran, sepintar apapun manuasia tidak dapat lolos dari kuasa tuhan.